Wolter Mongisidi, Mati Muda demi Indonesia Merdeka

Titiknalar
2 May 2025 06:00
Tokoh 0 66
5 minutes reading

5 September 1949, seorang pemuda berusia 24 tahun berhadapan dengan regu tembak tentara Belanda. Sebelum 8 peluru menerjang dada, dia sempat memekik: merdeka!

Pemuda itu adalah Robert Wolter Mongisidi. Dia dieksekusi mati karena aktivitas perjuangannya melawan kehadiran Belanda di negerinya yang baru merdeka. Dia rela menyetor nyawa demi kemerdekaan Negerinya.

Anak Manado yang Pemberani

Wolter lahir di Malalayang, sebuah kecamatan di kota Manado, Sulawesi Utara, pada tanggal 14 Februari 1925.

Keluarganya bukan orang kaya. Ayahnya hanyalah seorang petani kelapa. Namun, sang ayah memiliki tekad yang kuat untuk memastikan anak-anaknya dapat menikmati pendidikan tinggi.

Bote, nama panggilan Wolter waktu kecil, mengenyam pendidikan dasar di Hollands Inslanche School (HIS). Setelah itu, dia melanjutkan pendidikan menengah di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Frater Don Bosco di Manado.

Tahun 1942, suasana perang dunia kedua tiba juga di Hindia-Belanda. Belanda takluk dalam waktu singkat, kemudian Jepang menjadi penguasa baru. Pada saat itu, pendidikan Bote Wolter sempat terhenti.

Di bawah penduduk Jepang, Wolter belajar di sekolah guru bahasa Jepang di Tomohon. Setelah Tamat, dia mengajar bahasa Jepang di Liwutung (Minahasa), lalu pindah lagi ke Luwuk (Sulawesi Tengah). Saat itu, dia masih sangat muda: 17 tahun.

Pada tahun 1945, dia pindah ke Makassar, Sulawesi Selatan. Wolter bersekolah di Makassar saat Proklamasi Kemerdekaan dibacakan oleh Sukarno dan Hatta. Di Makassar, berita proklamasi kemerdekaan disambut dengan suka-cita.

Namun, pada tanggal 21 September 1945, tentara sekutu yang diboncengi Nederlandsch Indische Civiele Administratie (NICA) tiba di Makassar. Tak hanya mengambil kendali atas kota, NICA melarang pengibaran bendera merah-putih.

Para pelajar di Makassar, seperti Emmy Saelan, Wolter Monginsidi, dan Maulwi Saelan, mengorganisir perlawanan. Mereka merupakan pelajar-pelajar SMP Nasional, sekolah kaum Republiken yang didirikan pada 8 Oktober 1945.

Sementara pemuda yang lebih senior, seperti Manai Sophian, mendirikan Pusat Pemuda Nasional Indonesia (PPNI). Kelompok ini beberapa kali melancarkan serangan bersenjata terhadap tempat-tempat yang diduduki NICA.

Tak mau ketinggalan, pelajar-pelajar SMP Nasional juga bergerak, termasuk Wolter. Pada tanggal 29 Oktober 1945, mereka memenuhi Empress Hotel dan menangkapi opsir-opsir NICA di sana.

Wolter sendiri berkali-kali ikut aksi pemuda bersenjata yang menduduki tempat-tempat yang diduduki NICA, seperti stasiun radio dan tangsi polisi. Bahkan ia serta ikut menduduki kantor CoNICA (Commanding Officer NICA).

Lantaran itu, pada tanggal 27 Oktober 1945, Wolter bersama puluhan pemuda menangkap Belanda.

Bertempur Gagah Berani

Awal tahun 1946, posisi Wolter dan kawan-kawannya mulai terdesak di kota Makassar. Saat itu, Wolter sudah membentuk laskar bersenjata bernama Laskar Harimau.

Akhirnya, pada bulan Juli 1946, Wolter dan sejumlah pejuang Republik di Sulawesi Selatan, seperti Emmy Saelan, Maulwi Saelan, Lambert Supit, Abdullah, Sirajuddin, dan lain-lain, mengadakan pertemuan di Polombankeng, sebuah daerah di Takalar, Sulawesi Selatan.

Ada 19 organisasi pemuda yang berkumpul di Polombankeng saat itu. Hasil pertemuan itu adalah penyatuan semua laskar bersenjata di bawah payung: Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS). Ranggong Daeng Romo, pemimpin laksa Lipang Bajeng yang beroperasi di Takalar, ditunjuk sebagai pemimpinnya.

Selain itu, mereka juga bersepakat untuk melancarkan perang gerilya. Kadang-kadang menduduki markas NICA. Kadang-kadang melakukan aksi pencegatan terhadap konvoi tentara Belanda. Tak jarang, mereka melancarkan aksi sabotase.

Suatu hari, Monginsidi dan tiga kawannya mencegat mobil jip militer Belanda. Usai menodongkan pistol ke opsir-opsir Belanda, dia mengambil alih jip dan mengenakan pakaian tentara Belanda. Setelah itu, dia masuk ke tangsi militer Belanda dan memberondongkan senjata.

Pada bulan Desember 1946, merasa terjepit oleh aksi gerilya laskar bersenjata, Belanda mendatangkan pasukan khusus: Depot Pasukan Khusus (DST) yang dipimpin oleh Raymond Westerling.

Dalam operasinya, DST menggunakan strategi operasi sapu bersih. Mereka mendatangi kampung-kampung, mengumpulkan penduduknya, diinterogasi, lalu dipilah antara pro-Republik dan tidak. Mereka yang dianggap pro-Republik, yang dicap “ekstremis”, langsung dieksekusi mati.

Strategi itu berhasil menjepit laskar-laskar bersenjata. Ruang gerak mereka semakin dipersempit.

Pada bulan Januari-Februari 1947, tentara Belanda semakin gencar menduduki dan mengunci pergerakan laskar Republik. Dalam sebuah pertempuran pada 21 Januari 19467, Emmy Saelan, kekasih Wolter Mongisidi, gugur dalam pertempuran yang heroik.

Wolter berhasil selamat. Namun, pada 27 Februari 1947, Wolter tertangkap dalam sebuah aksi penyergapan. Namun, hanya 8 bulan di penjara, dia berhasil melarikan diri.

Sayang sekali, pengungsi Wolter tak berlangsung lama. Sembilan hari kemudian, Belanda kembali menangkapnya.

Pantang Menyerah

Saat ditangkap, Wolter mengalami penyiksaan berat. Terutama saat menjalani proses interogasi. Ia dipaksa untuk menceritakan keberadaan kawan-kawan seperjuangannya. Namun, dia kukuh untuk menolak.

Akhirnya, Wolter menjalani persidangan. Dia didakwa sebagai “ekstremis” yang suka mengacau, membunuh, menyerang, dan orang lain. Singkat cerita, pada tanggal 26 Maret 1949, Wolter dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman mati.

Begitu vonis mati tiba, keluarga Wolter dan kawan-kawannya berjuang untuk meminta grasi. Mereka sampai meminta kepada Presiden Negara Indonesia Timur (NIT), Tjokorda Gde Raka Soekawati, agar hukuman Wolter diringankan.

Sayang, permintaan itu diabaikan. Pemerintahan NIT bergeming. Di sisi lain, Wolter menolak meminta grasi kepada Belanda maupun NIT. Baginya, pantang menyerah demi kemerdekaan negerinya.

Akhirnya, proses hukuman mati pun tetap berjalan. Sambil menunggu ajal, Wolter banyak mendekatkan diri pada Tuhan. Dia juga mengirim pesan kepada kawan-kawannya. Salah satu pesannya menyebutkan:

“Dengan bantuan Tuhan, aku menjalani hukuman mati ini. Aku tidak mempunyai rasa balas dendam kepada pun, juga tidak kepada mereka yang menjatuhkan hukuman mati ini.Tetapi aku yakin, segala pengorbanan, air mata, dan darah pemuda kita akan menjadi pedoman yang kuat untuk tanah air Indonesia yang kita cintai ini.”

Wolter Mongisidi, pemuda asal Manado yang baru berusia 24 tahun itu, menerima ajal sebagai bentuk kecintaannya kepada kemerdekaan Republik Indonesia. Dia setia hingga akhir hayatnya, seperti pesan terakhirnya lewat secarik kertas: setia hingga terakhir dalam keyakinan.

MAHESA DANU

Sumber : berdikarionline, 21 Februari 2023,https://www.berdikarionline.com/wolter-mongisidi-mati-muda-demi-indonesia-merdeka/

 

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *