{"id":1565,"date":"2025-07-16T07:08:37","date_gmt":"2025-07-16T07:08:37","guid":{"rendered":"https:\/\/titiknalar.com\/?p=1565"},"modified":"2025-07-16T07:08:37","modified_gmt":"2025-07-16T07:08:37","slug":"revisi-uu-sisdiknas-harus-muat-rencana-induk-diknas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/2025\/07\/16\/revisi-uu-sisdiknas-harus-muat-rencana-induk-diknas\/","title":{"rendered":"Revisi UU Sisdiknas harus muat rencana induk diknas"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Jakarta, <\/span><\/span><strong><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">TitikNalar<\/span><\/span><\/strong><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"> &#8211; Anggota Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih mengamati pelaksanaan revisi Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) harus memuat rencana induk pendidikan nasional yang selaras dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) menuju Indonesia Emas 2045.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">&#8220;Kemarin, menteri yang lalu (Nadiem Makarim) membuat peta jalan untuk 15 tahun. Padahal, RPJPN kita 20 sampai 25 tahun. Peta jalan yang 15 tahun saja belum tentu selesai, apalagi jika tidak disesuaikan dengan visi besar negara,&#8221; katanya di Jakarta, Rabu.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Ia menegaskan akar permasalahan dalam revisi UU Sisdiknas bukan sekadar pasal-pasal usang atau tidak relevan lagi dengan kondisi pendidikan terkini, melainkan ketiadaan rencana induk sebagai kompas pengembangan pendidikan jangka panjang.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">\u201cYang menjadi catatan kami adalah kita belum punya blueprint atau cetak birunya, belum punya rencana induk,\u201d ujar dia.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Menurut dia, pembaruan UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas yang telah berusia 22 tahun memang mendesak.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Revisi tersebut, ujarnya, akan fokus pada sejumlah aspek vital, seperti pengembangan kompetensi guru dan pembaruan kurikulum agar relevan dengan dunia kerja hingga sistem penerimaan mahasiswa baru.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Meski begitu, Fikri mengingatkan bahwa semua upaya teknis itu tidak akan cukup tanpa visi besar yang terstruktur.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">&#8220;Saya kira kita sudah telat jauh,&#8221; kata dia.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Ia membandingkan kondisi pendidikan Indonesia dengan negara tetangga yang saat ini lebih terarah.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">&#8220;Negara-negara tetangga kita itu, yang dulu belajar ke Indonesia, mereka sudah punya cetak biru. Bahkan ada yang memakai kurikulum kita tahun 1974 sebagai acuan. Kenapa mereka bagus? Karena itu jelas,&#8221; ujar legislator asal Daerah Pemilihan (Dapil) IX Jawa Tengah itu.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Arah yang jelas itu, katanya, tercermin dari porsi yang seimbang antara pendidikan vokasi, akademik, dan profesi.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Ketiadaan terhadap sistem pendidikan di Indonesia, menurut dia, telah memicu masalah turunan, seperti fenomena saling menyalahkan saat lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) dituding menyebabkan penyumbang pengangguran terbesar.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">\u201cItu terjadi karena memang arah pendidikan kita tidak ditentukan dulu,\u201d ujarnya.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Komisi X DPR RI menargetkan revisi UU Sisdiknas rampung dilakukan pada tahun 2025. Revisi UU Sisdiknas suatu upaya mewujudkan kebijakan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan tantangan zaman.<\/span><\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Sumber : ANTARA, 16 Juli 2025, https:\/\/m.antaranews.com\/berita\/4969873\/revisi-uu-sisdiknas-harus-muat-rencana-induk-diknas?utm_source=antaranews&amp;utm_medium=mobile&amp;utm_campaign=latest_category<\/span><\/span><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta, TitikNalar &#8211; Anggota Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih mengamati pelaksanaan revisi Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) harus memuat rencana induk pendidikan nasional yang selaras dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) menuju Indonesia Emas 2045. &#8220;Kemarin, menteri yang lalu (Nadiem Makarim) membuat peta jalan untuk 15 tahun. Padahal, RPJPN kita 20 sampai 25 tahun. Peta jalan yang 15 tahun saja belum tentu selesai, apalagi jika tidak disesuaikan dengan visi besar negara,&#8221; katanya di Jakarta, Rabu. Ia menegaskan akar permasalahan dalam revisi UU Sisdiknas bukan sekadar pasal-pasal usang atau tidak relevan lagi dengan kondisi pendidikan terkini, melainkan ketiadaan rencana induk sebagai kompas pengembangan pendidikan jangka panjang. \u201cYang menjadi catatan kami adalah kita belum punya blueprint atau cetak birunya, belum punya rencana induk,\u201d ujar dia. Menurut dia, pembaruan UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas yang telah berusia 22 tahun memang mendesak. Revisi tersebut, ujarnya, akan fokus pada sejumlah aspek vital, seperti pengembangan kompetensi guru dan pembaruan kurikulum agar relevan dengan dunia kerja hingga sistem penerimaan mahasiswa baru. Meski begitu, Fikri mengingatkan bahwa semua upaya teknis itu tidak akan cukup tanpa visi besar yang terstruktur. &#8220;Saya kira kita sudah telat jauh,&#8221; kata dia. Ia membandingkan kondisi pendidikan Indonesia dengan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":1567,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-1565","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pendidikan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1565","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1565"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1565\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1568,"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1565\/revisions\/1568"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1567"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1565"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1565"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1565"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}