{"id":201,"date":"2025-05-02T05:48:39","date_gmt":"2025-05-02T05:48:39","guid":{"rendered":"https:\/\/titiknalar.com\/?p=201"},"modified":"2025-05-03T06:14:42","modified_gmt":"2025-05-03T06:14:42","slug":"sulianti-saroso-dokter-pejuang-dan-pelopor-kb","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/2025\/05\/02\/sulianti-saroso-dokter-pejuang-dan-pelopor-kb\/","title":{"rendered":"Sulianti Saroso, Dokter Pejuang dan Pelopor KB"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Dia adalah Julie Sulianti Saroso. Dia adalah dokter, pejuang perempuan, dan tokoh kesehatan dunia.<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Sulianti lahir di Karangasem, Bali, pada tanggal 10 Mei 1917. Ayahnya adalah dokter lulusan STOVIA. Namanya Moehammad Soelaiman. Selain menjadi dokter, ayahnya juga dikenal sebagai aktivis pergerakan.<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Sulianti kemudian mengikuti jejak bapaknya sebagai dokter. Selepas pendidikan Gymnasium di Bandung pada tahun 1935, dia mengambil pendidikan kedokteran di Sekolah Tinggi Kedokteran Geneeskundige Hoge School (GHS).<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Semasa menjadi mahasiswa kedokteran, Sulianti sudah menarik perhatian. Selain karena jumlah mahasiswa perempuan sekolah kedokteran yang sedikit, dia berpenampilan menarik, lincah, dan pandai bergaul.<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Ditambah lagi, dia suka bermain tenis. Karena penampilan dan kegemarannya berolahraga, dia masuk dalam kategori sosial yang disebut oleh majalah De Java Bode sebagai \u201cde Javaanse elite\u201d.<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Setelah lulus pada tahun 1942, ia bekerja sebagai dokter di Centrale Burgerlijke Ziekenhuis (CBZ)\u2013sekarang Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p><strong><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Perempuan Pejuang<\/span><\/span><\/span><\/span><\/strong><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Pendudukan Jepang, yang disusul dengan Proklamasi dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan, telah mengubah jalan hidup Sulianti dari apolitis menjadi aktivisme pergerakan.<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Di masa itu, selain tetap bekerja sebagai dokter di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta, ia juga aktif dalam pergerakan perempuan Indonesia.<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Dia menjadi anggota Dewan Pimpinan Kongres Wanita Indonesia dan aktif di Badan Kongres Pemuda Republik Indonesia sebagai perwakilan Pemuda Putri Indonesia (PPI). Di garis depan, dia menjadi bagian dari laskar wanita yang diberi nama WPP: Wanita Pembantoe Perdjoangan.<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Apalagi berdasarkan cerita wartawan tiga zaman, Rosihan Anwar, saat itu Sulianti ikut ke garis depan pertempuran untuk mempertahankan kemerdekaan RI.<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Selain itu, ia juga sering mengusahakan obat dan makanan untuk para pemuda dan pejuang. Sulianti kerap mengantarkan obat dan makanan tersebut ke depan Tambun (Jawa Barat), Gresik (Jawa Timur), Demak (Jawa Tengah), dan sekitar Yogyakarta.<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Saat agresi militer kedua, Sulianti ditangkap dan ditahan oleh Belanda. Dia bermaksud melancarkan aksi subversif kepada Belanda.<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Pada tahun 1947, ketika Belanda mulai memblokade RI dari dunia internasional, Sulianti berhasil memenuhi tuntutan ke India untuk menghadiri Kongres Wanita Seluruh Dunia. Ia naik pesawat milik industrialis India, Patnaik. Dia kembali ke Indonesia pada Juli 1948 melalui rute New Delhi, Bukittinggi, lalu Yogyakarta.<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Konon, saat itu Sulianti satu pesawat dengan Muso dan Suripto. Namun, saat itu Musso menggunakan nama julukan: Suparto. Sehingga, menurut Rosihan, Sulianti tidak tahu kalau Suparto itu sebetulnya adalah Musso, tokoh yang menggegerkan politik Indonesia pada tahun 1948.<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p><strong><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Pelopor KB<\/span><\/span><\/span><\/span><\/strong><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Perang Usai Kemerdekaan, Sulianto melanjutkan pendidikan kedokterannya. Berbekal mahasiswa dari WHO, ia mendapat kesempatan mempelajari mempelajari sistem kesehatan ibu dan anak di Inggris dan Skandinavia.<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Pada tahun 1952, ia kembali ke tanah air. Dengan adanya informasi ini, ia mulai bersuara tentang perlunya kebijakan transportasi demi memastikan kesehatan ibu dan anak. Namun, ide itu sangat tabu di masa itu dan banyak menuai kecaman.<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Banyak yang menuding gagasan kelahiran itu melawan kodrat alami dan jalur HAM. Presiden Sukarno dan Menkes dr Johannes Leimena turun tangan untuk menegur Sulianti<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Sulianti bekerja di Kementerian Kesehatan RI sejak tahun 1951 hingga pensiun. Ia menduduki banyak jabatan, seperti Direktur Jenderal Pencegahan, Pemberantasan dan Pembasmian Penyakit Menular (P4M) dan menjabat sebagai Ketua Lembaga Riset Kesehatan Nasional (LRKN).<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Sulianti mendapat gelar sarjana administrasi kesehatan masyarakat dari Universitas London. Tahun 1961-1965, dia menjadi peneliti di School of Medicine, Tulane University, New Orleans, Amerika Serikat. DIa meneliti soal penyakit lumpuh dan keracunan serangga di Kolombia.<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Pada tahun 1962, Sulianti mendapat gelar Master Public Health And Tropical Medicine. Gelar doktor di bidang epidemiologi diraihnya tahun 1965 dengan penelitian disertasi berjudul \u201dThe Natural History of Enteropathogenic Escherichia Coli Infections\u201d.<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Selain bekerja di Kemenkes, Sulianti juga pernah memimpin organisasi seperti Komite Pakar Kesehatan Ibu dan Anak WHO, Komisi Pengembangan Masyarakat PBB di Negara-negara Afrika, dan Komisi Nasional Perempuan Indonesia.<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Dalam sejarah WHO, Sulianti adalah perempuan kedua setelah dokter Rajkumari Amrit Kaur dari India yang pernah memimpin Majelis Kesehatan Dunia. Selama 10 tahun (1969-1979), ia tercatat sebagai anggota Panitia Pakar WHO untuk Pengawasan Internasional Penyakit Menular.<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Sulianti berpulang pada meninggal pada tanggal 29 April 1991. Namanya ditabalkan menjadi nama menjadi nama rumah sakit khusus penyakit infeksi di Jakarta: RSPI Sulianti Saroso.<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">RINI HARTONO<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Sumber : berdikarionline, 10 Mei 2023, https:\/\/www.berdikarionline.com\/sulianti-saroso-dokter-pejuang-dan-pelopor-kb\/<\/span><\/span><\/span><\/span><\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dia adalah Julie Sulianti Saroso. Dia adalah dokter, pejuang perempuan, dan tokoh kesehatan dunia. Sulianti lahir di Karangasem, Bali, pada tanggal 10 Mei 1917. Ayahnya adalah dokter lulusan STOVIA. Namanya Moehammad Soelaiman. Selain menjadi dokter, ayahnya juga dikenal sebagai aktivis pergerakan. Sulianti kemudian mengikuti jejak bapaknya sebagai dokter. Selepas pendidikan Gymnasium di Bandung pada tahun 1935, dia mengambil pendidikan kedokteran di Sekolah Tinggi Kedokteran Geneeskundige Hoge School (GHS). Semasa menjadi mahasiswa kedokteran, Sulianti sudah menarik perhatian. Selain karena jumlah mahasiswa perempuan sekolah kedokteran yang sedikit, dia berpenampilan menarik, lincah, dan pandai bergaul. Ditambah lagi, dia suka bermain tenis. Karena penampilan dan kegemarannya berolahraga, dia masuk dalam kategori sosial yang disebut oleh majalah De Java Bode sebagai \u201cde Javaanse elite\u201d. Setelah lulus pada tahun 1942, ia bekerja sebagai dokter di Centrale Burgerlijke Ziekenhuis (CBZ)\u2013sekarang Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Perempuan Pejuang Pendudukan Jepang, yang disusul dengan Proklamasi dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan, telah mengubah jalan hidup Sulianti dari apolitis menjadi aktivisme pergerakan. Di masa itu, selain tetap bekerja sebagai dokter di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta, ia juga aktif dalam pergerakan perempuan Indonesia. Dia menjadi anggota Dewan Pimpinan Kongres Wanita Indonesia dan aktif di Badan Kongres Pemuda Republik Indonesia sebagai perwakilan Pemuda Putri [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":202,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[10],"tags":[],"class_list":["post-201","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-tokoh"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/201","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=201"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/201\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":260,"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/201\/revisions\/260"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/202"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=201"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=201"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=201"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}