{"id":211,"date":"2025-05-02T06:09:10","date_gmt":"2025-05-02T06:09:10","guid":{"rendered":"https:\/\/titiknalar.com\/?p=211"},"modified":"2025-05-03T13:32:29","modified_gmt":"2025-05-03T13:32:29","slug":"sitor-situmorang-sang-panglima-kabudayaan-marhaen","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/2025\/05\/02\/sitor-situmorang-sang-panglima-kabudayaan-marhaen\/","title":{"rendered":"Sitor Situmorang, Sang Panglima Kabudayaan Marhaen"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Pada tahun 1947, seorang anak muda yang bekerja di harian Waspada di kota Medan mendapat tugas untuk meliput suasana revolusi di kota Yogyakarta. Saat itu, Ibukota Republik Indonesia tidak baik-baik saja karena agresi militer Belanda.<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Anak muda itu adalah Sitor Situmorang. Saat itu usianya baru 23 tahun. Dari ibukota Yogyakarta, Sitor mengabarkan suasana revolusi ke Sumatera dan berbagai tempat, baik lewat koran Waspada maupun Antara.<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Sejak saat itu juga bakat menulisnya mulai tampak benderang. Sayang, saat agresi militer Belanda yang ke-II pada bulan Desember 1948, Sitor ditangkap oleh Nefis (Badan Intelijen Pasukan Belanda). Dia menghuni penjara Wirogunan hingga berbaur RI oleh Belanda pada tahun 1949.<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p><strong><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Jalan Menjadi Penyair<\/span><\/span><\/span><\/span><\/strong><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Sitor lahir di Harianboho, sebuah desa di kaki bukit Pusuk Buhit, kabupaten Samosir, Sumatera, pada tanggal 2 Oktober 1924. Nama aslinya sebetulnya adalah Raja Usu.<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Konon, karena kekesalan kakaknya, Sitor dipanggil \u201cnar pitor-pitor\u201d karena kesenangannya berlari menjelajahi desa. Sejak itulah kawan-kawannya memanggil \u201csi Pitor\u201d. Guru sekolah mengabadikan nama itu di rapor sekolah: Sitor.<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Sitor adalah keturunan keluarga pemangku adat Batak yang memiliki pemikiran maju: menganggap pendidikan sebagai jalan untuk mencapai kemajuan. Oleh karena itu, sejak sekolah dasar, Sitor sudah meninggalkan kampung halaman dan bersekolah di Balige.<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Setelah tamat Sekolah Dasar, ia melanjutkan pendidikan ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) di Tarutung pada tahun 1938. Lalu, jelang kedatangan Jepang, dia pindah sekolah di Batavia. Sitor bersekolah di Algemeene Middelbare School di Salemba. Selain itu, dia berniat bersekolah di sekolah tinggi hukum.<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Sayang, kedatangan tentara kekuasaan Jepang pada awal tahun 1942 memupuskan harapan itu. Saat pendudukan Jepang, Sitor sempat tinggal di Singapura. Jelang 1945, dia sempat bekerja di Sibolga dan Tarutung.<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 mengubah segalanya. Sebuah negara baru merdeka berdiri. Setelah itu, api revolusi nasional berkobar untuk memberi kemerdekaan sejati pada negara baru merdeka ini.<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Di Tarutung, Sitor mendengar panggilan revolusi itu. Ia segera bergabung dengan badan perjuangan Sumatera Utara. Dia bekerja di koran Suara Nasional. Tak lama kemudian, dia pindah ke Medan dan bekerja di harian Waspada.<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Sejak tahun 1948, Sitor mulai menulis puisi. Dia juga mulai bergaul dengan seniman-seniman Jakarta yang sering disebut \u201cAngkatan 45\u201d, seperti Chairil Anwar dan Asrul Sani. Mungkin karena itu, Pakar sastra Indonesia asal Belanda, A Teeuw, menyebut Sitor sebagai penyair angkatan 45 terkemuka pasca Chairil Anwar.<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p><strong><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Panglima Kebudayaan Marhaen<\/span><\/span><\/span><\/span><\/strong><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Pada tahun 1950, atas undangan Stichting Culturele Samenwerking (Sticusa), Sitor berkelana ke Eropa. Awalnya di Amsterdam, lalu sempat bekerja di kedutaan Indonesia di Paris.<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Pada tahun 1953, dia kembali ke Indonesia. Sejak itulah karya-karya Sitor mulai menghiasi panggung sastra Indonesia, mulai dari puisi, drama, cerita pendek, hingga cerita film. Pada tahun itulah ia menerbitkan buku kumpulan puisinya yang berjudul \u201cSurat Kertas Hijau (1953)\u201d.<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Oiya, film pertama Indonesia Merdeka, Darah dan Doa (1950), yang disutradarai oleh Usmar Ismail, skenarionya ditulis oleh Sitor Situmorang.<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Pada tahun 1954, ketika usianya menginjak 30 tahun, Sitor semakin mantap menjadi pengikut ajaran sosialisme Sukarno. Dia pun mendaftar sebagai anggota Partai Nasional Indonesia (PNI) tahun itu. Sejak itu juga dia memposisikan dirinya sebagai penentang pandangan borjuis, feodalisme dan imperialis.<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Pada tahun 1956, dia menulis risalah berjudul Marhaenisme dan Kebudayaan Indonesia, yang berusaha menerjemahkan pemikiran Sukarno dalam bidang kebudayaan. Dia menyebut Sitor menyebut marhaenisme sebagai \u201crumusan iklim pemikiran Indonesia\u201d.<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Tak bisa dipungkiri, marhaenisme adalah penemuan cerdas Sukarno untuk membumikan marxisme dalam konteks sosial masyarakat Indonesia. Namun, pasca tahun 1920an dan setelah Sukarno menjadi Presiden, marhaenisme menjadi pemikiran seperti Mandek.<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Akhir tahun 1950-an hingga 1960-an, Sitor banyak ditunjuk untuk mengisi lembaga-lembaga negara, seperti Dewan Nasional (1958), Dewan Perancang Nasional\/Depernas (1959), wakil seniman MPRS (1959-1965), dan Badan Pertimbangan Ilmu Pengetahuan (1961-1962).<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Pada tahun 1959, dia ditunjuk sebagai ketua Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN), sayap Kebudayaan PNI. Boleh dibilang, meminjam kata-kata Pramoedya Ananta Toer, Sitor adalah \u201cpanglima kebudayaan marhaen\u201d.<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Tahun 1965, menjelang peristiwa G30S, Sitor menerbitkan risalah berjudul \u201cSastra Revolusioner\u201d. Bagi Sitor, dalam masyarakat sosialis, sastra haruslah milik rakyat. Menurutnya, tugas sastrawan adalah mengetahui dan menolak penghisapan ekonomi dan sosial. Sastra revolusioner bekerja untuk kesejahteraan manusia dan perjuangan mewujudkan sosialisme.<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Dengan sendirinya, Sitor memposisikan sastra revolusioner sebagai antitesa dari humanisme universal, individualisme, dan pandangan \u201cseni untuk seni\u201d. Sastra revolusioner harus berlandaskan ajaran Sukarno, terutama TAVIP (Tahun \u201cVivere Pericoloso\u201d, 1964), agar bisa memahami dinamika, hukum-hukum, dan tujuan revolusi.<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Sayang sekali, di puncak pergulatan pemikiran Sitor dan lawan-lawan debatnya, terjadi peristiwa G30S 1965 yang menjungkalkan kekuasaan Sukarno. Dia ikut terlibas oleh gelombang sejarah. Sitor ditangkap dan dipenjara tanpa proses pengadilan.<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p><strong><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Terus Berkarya<\/span><\/span><\/span><\/span><\/strong><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Tahun 1975, setelah 8 tahun mendekam di penjara, Sitor dibebaskan. Ternyata penjara tak mampu menumpas daya kreatif seorang Sitor Situmorang.<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Buktinya, begitu keluar dari penjara, dipikirkan pada pengawasan ketat Orde Baru, dia langsung mengeluarkan karya-karyanya: Dinding Waktu (1976), Peta Perjalanan (1977), cerpen Danau Toba (1981), Angin Danau (1982), dan cerita anak-anak Gajah, Harimau dan Ikan (1981).<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Tahun 1990-an, Sitor merambah dunia sejarah dan antropologi. Dia menulis buku sejarah Guru Samalaing dan Modigliani: Utusan Raja Rom (1993) dan Toba Na Sae (1993). Saat itu, Sitor juga menulis otobiografinya, Sitor Situmorang Seorang Sastrawan &#8217;45 Penyair Danau Toba (1981).<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Tahun 1994, saat usianya sudah memasuki kepala tujuh, Sitor masih juga produktif. Dia menerbitkan kumpulan cerpennya, Salju di Paris (1994) dan Kisah Surat dari Legian (2001).<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Pada tahun 2004, saat usianya sudah menginjak 80 tahun, Sitor masih menunjukkan eksistensinya dengan menggabungkan dua bukunya mengenai sejarah budaya Batak Toba dengan tambahan bahan-bahan baru menjadi buku Toba Na Sae: Sejarah Lembaga Sosial Politik Abad XIII-XX. Dia juga menerbitkan kumpulan sajak berjudul Biksu Tak Berjubah (2004).<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Luar biasa, seorang seniman yang digolongkan sebagai bagian dari \u201cAngkatan 45\u201d masih bisa berkarya hingga usia senja. Hingga akhirnya, pada tanggal 21 Desember 2014, Sitor meninggal dunia di Apeldoorn, Belanda.<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">TIMUR SUBANGUN<\/span><\/span><\/span><\/span><\/p>\n<p><strong><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Sumber: berdikarionline, 24 Desember 2022,https:\/\/www.berdikarionline.com\/sitor-situmorang-sang-panglima-kabudayaan-marhaen\/<\/span><\/span><\/span><\/span><\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pada tahun 1947, seorang anak muda yang bekerja di harian Waspada di kota Medan mendapat tugas untuk meliput suasana revolusi di kota Yogyakarta. Saat itu, Ibukota Republik Indonesia tidak baik-baik saja karena agresi militer Belanda. Anak muda itu adalah Sitor Situmorang. Saat itu usianya baru 23 tahun. Dari ibukota Yogyakarta, Sitor mengabarkan suasana revolusi ke Sumatera dan berbagai tempat, baik lewat koran Waspada maupun Antara. Sejak saat itu juga bakat menulisnya mulai tampak benderang. Sayang, saat agresi militer Belanda yang ke-II pada bulan Desember 1948, Sitor ditangkap oleh Nefis (Badan Intelijen Pasukan Belanda). Dia menghuni penjara Wirogunan hingga berbaur RI oleh Belanda pada tahun 1949. Jalan Menjadi Penyair Sitor lahir di Harianboho, sebuah desa di kaki bukit Pusuk Buhit, kabupaten Samosir, Sumatera, pada tanggal 2 Oktober 1924. Nama aslinya sebetulnya adalah Raja Usu. Konon, karena kekesalan kakaknya, Sitor dipanggil \u201cnar pitor-pitor\u201d karena kesenangannya berlari menjelajahi desa. Sejak itulah kawan-kawannya memanggil \u201csi Pitor\u201d. Guru sekolah mengabadikan nama itu di rapor sekolah: Sitor. Sitor adalah keturunan keluarga pemangku adat Batak yang memiliki pemikiran maju: menganggap pendidikan sebagai jalan untuk mencapai kemajuan. Oleh karena itu, sejak sekolah dasar, Sitor sudah meninggalkan kampung halaman dan bersekolah di Balige. Setelah tamat Sekolah Dasar, ia melanjutkan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":212,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[10],"tags":[],"class_list":["post-211","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-tokoh"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/211","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=211"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/211\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":326,"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/211\/revisions\/326"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/212"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=211"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=211"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=211"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}