{"id":214,"date":"2025-05-02T07:41:39","date_gmt":"2025-05-02T07:41:39","guid":{"rendered":"https:\/\/titiknalar.com\/?p=214"},"modified":"2025-05-03T06:13:17","modified_gmt":"2025-05-03T06:13:17","slug":"sujatin-kartowijono-sang-penerus-api-kartini","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/2025\/05\/02\/sujatin-kartowijono-sang-penerus-api-kartini\/","title":{"rendered":"Sujatin Kartowijono, Sang Penerus Api Kartini"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Tahun 1920-an, api pemikiran Kartini membakar semangat seorang remaja perempuan. Sujatin, nama remaja itu, terpukau membaca \u201cDoor Duisternis Tot Licht\u201d.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">\u201cTak ada buku bacaan lain, di antara sekian buku bacaan yang pernah kunikmati, yang lebih mempengaruhi saya selain yang satu ini,\u201d kata Sujatin di dalam biografi yang ditulis oleh Hanna Rambe, Mencari Makna Hidupku.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Sujatin Kartowijono merupakan tokoh penting dalam perjuangan perempuan Indonesia, baik untuk kesetaraan gender maupun kemerdekaan bangsanya. Dia menjadi penerus cita-cita Kartini.<\/span><\/span><\/p>\n<p><strong><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Mewarisi Api Kartini<\/span><\/span><\/strong><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Sujatin lahir tanggal 9 Mei 1907 di desa Kalimenur, Kabupaten Wates, Yogyakarta. Dia lahir dari keluarga berdarah priyayi.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Bapaknya, Mahmud Joyohadinoro, menjadi pegawai di jawatan kereta api Belanda. Sedangkan ibunya, Raden Ajeng Kiswari, seorang bangsawan yang dekat dengan Keraton Yogyakarta.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Sujatin adalah anak keempat dari 5 bersaudara. Semua kakaknya adalah perempuan. Oleh karena itu, ketika Sujatin masih dalam kandungan, bapaknya sangat mengharap anak laki-laki.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Sehingga, ketika Sujatin lahir, bapaknya agak kecewa. Sang bapak, yang tercekoki menganggap dirinya patriarkis, enggan menggendong Suyatin.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Sujatin mendengar kisah itu dari kakaknya ketika sudah menginjak Hollands Inlandsche SchoolHIS (sekolah dasar zaman Belanda). Saat itu, sebagai anak perempuan yang beranjak remaja, Suyatin merasakan langsung perlakuan yang tak adil karena faktor gender.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Namun, Sujatin tak menyerah. Kisah pahit itu menjadi pendorong semangatnya. Dia percaya, pendidikan akan memperbaiki nasib perempuan. Oleh karena itu, selain belajar di sekolah, Suyatin berteman dengan buku-buku.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Dia membacai surat-surat Kartini, terutama yang terkompilasi di buku \u201cDoor Duisternis Tot Licht\u201d. Dari bacaan itu, Sujatin tidak hanya mendapat pengetahuan dan inspirasi, tetapi juga semangatnya.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Pada tahun 1922, ketika bersekolah di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs\/MULO (sekolah setingkat SMP), dia mulai terjun ke gelanggan pergerakan sebagai aktivis Jong Java. Ia aktif dalam kegiatan organisasi kepemudaan itu.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Karena api Kartini, Sujatin juga rajin menulis. Ia banyak menulis kegelisahan maupun pemikirannya lewat koran Jong Java. Dia memakai nama pena dari nama bunga: Garbera.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Setelah tamat dari MULO, lagi-lagi karena pengaruh Kartini, Sujatin melanjutkan pendidikannya ke sekolah guru. Dia bertekad menjadi pembawa obor bagi pencerahan bangsanya.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Tahun 1926, Kartini mulai menjadi pengajar di sekolah dasar (HIS) swasta. Dia enggan menjadi guru di sekolah milik pemerintah. Konsekuensinya, dia menikmati gaji yang lebih kecil.<\/span><\/span><\/p>\n<p><strong><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Berorganisasi dan Bergerak!<\/span><\/span><\/strong><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Tahun 1926, di sela-sela kesibukannya sebagai guru, Sujatin dan kawan-kawannya mendirikan organisasi perempuan bernama Poetri Indonesia.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Organisasi yang berbasis di Jogjakarta ini banyak menghimpun guru-guru. Salah satu aktivitasnya adalah membuka kursus-kursus dan pengajaran bagi rakyat, terutama perempuan.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Tahun 1928, di Batavia, kaum muda menggelar Kongres pemuda ke-2. Kongres yang melahirkan \u201cSumpah Pemuda\u201d itu bergaung ke seantero Hindia-Belanda dan memercikkan semangat untuk bersatu.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Melihat suksesnya Kongres Pemuda ke-2, Sujatin mulai mendekati sejumlah tokoh perempuan, seperti Nyi Hajar Dewantara dan RA Soekonto. Ia mengajak tokoh-tokoh itu menggagas kongres perempuan.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Ide Sujatin mendapat Beragam. RA Soekonto, aktivis Wanita Oetomo, terpilih sebagai ketua panitia Kongres, sedangkan Nyi Hajar Dewantoro dan Sujatin menjadi bendahara panitia.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Kongres Perempuan pertama dilaksanakan pada tanggal 22-25 Desember 1928, di pendopo Joyodipuran, Yogyakarta. Sebanyak 600-an perempuan dari 30-an organisasi menjadi peserta kongres itu.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Di kongres itu, Sujatin ikut menyampaikan pidato Beragam. Menariknya, meskipun sehari-hari menggunakan bahasa Belanda, tetapi di kongres itu ia menggunakan bahasa Indonesia (bahasa Melayu).<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Kongres perempuan menjadi titik penting pergerakan perempuan Indonesia, baik untuk perjuangan kesetaraan gender maupun kemandirian nasional.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Kongres ini juga melahirkan kesepakatan untuk membentuk federasi bersama organisasi perempuan: Perikatan Perempuan Indonesia (PPI). Di pengujung tahun 1928, PPI berganti nama menjadi Perikatan Perkoempoelan Isteri Indonesia (PPII).<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Di era kongres itu, aktivisme Sujatin meningkat. Dia semakin mewujudkan kesetaraan gender dan emansipasi sosial. Dia tidak hanya membeci patriarki, tetapi juga sistem sosialnya: feodalisme.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Selain bergelut dengan isu-isu pendidikan, dia juga terlibat dalam berbagai advokasi rakyat jelata. Mulai dari mengadvokasi mereka yang terlilit utang hingga memprotes diskriminasi di tempat kerja.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Tahun 1932, di sela-sela kesibukan berorganisasi, Sujatin bertemu pasangan hidupnya: Pudiarso Kartowijono. Kebetulan, Pudiarso juga seorang aktivis pergerakan. Mereka menikah tahun itu juga.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Tahun 1942, penguasaan di Nusantara berubah, dari Hindia-Belanda menjadi fasisme Jepang. Saat itu, demi memobilisasi dukungan rakyat Indonesia ke perang Asia Timur Raya, Jepang membentuk banyak organisasi massa, termasuk Fujinkai untuk perempuan.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Sujatin menolak ide pembentukan Fujinkai. Menurutnya, gerakan perempuan tidak memerlukan organisasi baru lagi, melainkan memperluas yang ada.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">&#8220;Segera setelah itu, saya menerima surat dari penyelenggara pertemuan: hati-hati, Kempetai. Dua hari kemudian, namaku masuk daftar hitam Jepang,&#8221; kenang Sujatin dalam The Encyclopedia of Indonesia in the Pacific War.<\/span><\/span><\/p>\n<p><strong><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Revolusi dalam Revolusi<\/span><\/span><\/strong><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Usai Proklamasi kemerdekaan, gerakan perempuan kembali menggeliat untuk mendukung revolusi nasional.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Di Yogyarkata, kaum perempuan mendidik membentuk Persatuan Wanita Indonesia (PERWANI). Organisasi ini bertekad untuk memobilisasi perempuan ke dalam revolusi kemerdekaan.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Di Jakarta, perempuan membentuk Wanita Indonesia (WANI). Organisasi ini banyak membangun dapur umum dan mengatur distribusi beras demi menopang revolusi yang sedang bergolak.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Sujatin, yang saat itu berada di Jakarta, bergabung dengan WANI. Saat itu, kondisi Jakarta sudah mencekam sejak kedatangan Inggris yang diboncengi NICA pada 15 September 1945. Akibatnya, aktivitas dapur umum pun tidak aman dari bahaya.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Pada saat itu, seiring-sejalan dengan semangat revolusi yang terus berkobar, aktivis-aktivis perempuan terus bergerak untuk mengkonsolidasikan kekuatan.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Pada tanggal 15-17 Desember 1945, di Klaten, Jawa Tengah, Perwani dan WANI berhasil menyelenggarakan kongres perempuan pertama pasca Proklamasi. Sujatin serta ikut serta dalam kongres ini.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Kongres itu kemudian meleburkan Perwani dan WANI ke dalam wadah baru: Persatuan Wanita Republik Indonesia (PERWARI). Sujatin menjadi bagian dari PERWARI.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Tak berselang lama, pada bulan Februari 1946, sebuah konsolidasi perempuan yang diinisiasi oleh Perwari menghidupkan Badan Kongres Wanita Indonesia untuk mendorong konsolidasi gerakan perempuan yang lebih luas.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Selanjutnya, pada bulan Juni 1946, ada Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) yang diselenggarakan di Madiun, Jawa Timur. Di KOWANI, Sujatin ditunjuk sebagai ketua di Dewan Pimpinan Pusat.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Usai mensponsori, Perwari dan KOWANI aktif memperjuangkan isu-isu perempuan, termasuk memperjuangkan UU perkawinan yang demokratis dan berkeadilan.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Tahun 1950-an, Perwari terusik oleh praktik poligami di kalangan pegawai negeri sipil. Puncaknya, pada tahun 1952, pemerintah membuat peraturan tentang pembagian uang pensiun untuk pegawai negeri yang memiliki istri lebih dari orang. Bagi Perwari, peraturan itu sama saja dengan melegitimasi poligami.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Tahun 1953, Sujatin ditunjuk sebagai Ketua Umum Perwari. Di bawah nahkodanya, Perwari berdiri paling depan melawan poligami.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Puncaknya, pada tanggal 17 Desember 1953, Perwari memerintahkan seluruh cabangnya menggelar aksi memprotes PP yang membolehkan poligami. Aksi itu mendapat dukungan luas.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Belum selesai isu PP, tahun itu juga tersiar kabar rencana pernikahan Sukarno dengan Hartini. Sujatin dan Perwari meradang. Saat itu, tidak banyak organisasi perempuan yang berani memprotes poligami Sukarno.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Tetapi Sujatin dan Perwari berani memilih yang konsisten untuk melawan poligami. Perwari menunjuk Sujatin untuk menyampaikan protes langsung kepada Presiden Sukarno.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Di tahun yang sama, Perwari dan organisasi perempuan lainnya tengah berjuang keras untuk menghasilkan UU perkawinan yang demokratis.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Tahun 1960-an, Sujatin mulai mengurangi keterlibatannya di Perwari. Namun, perhatiannya pada isu-isu perempuan tidak pernah surut.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Di masa Orde baru, dia sempat mengisi beberapa jabatan di pemerintahan, seperti konsultan Departemen Sosial (1974-1978). Dia juga sempat memimpin Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI).<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Pada tanggal 1 Desember 1983, Sujatin menghembuskan nafas terakhirnya di RS Cipto Mangunkusumo.<\/span><\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">RINI HARTONO<\/span><\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Sumber: berdikarionline, 22 Desember 2022,https:\/\/www.berdikarionline.com\/sujatin-kartowijono-sang-penerus-api-kartini\/<\/span><\/span><\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tahun 1920-an, api pemikiran Kartini membakar semangat seorang remaja perempuan. Sujatin, nama remaja itu, terpukau membaca \u201cDoor Duisternis Tot Licht\u201d. \u201cTak ada buku bacaan lain, di antara sekian buku bacaan yang pernah kunikmati, yang lebih mempengaruhi saya selain yang satu ini,\u201d kata Sujatin di dalam biografi yang ditulis oleh Hanna Rambe, Mencari Makna Hidupku. Sujatin Kartowijono merupakan tokoh penting dalam perjuangan perempuan Indonesia, baik untuk kesetaraan gender maupun kemerdekaan bangsanya. Dia menjadi penerus cita-cita Kartini. Mewarisi Api Kartini Sujatin lahir tanggal 9 Mei 1907 di desa Kalimenur, Kabupaten Wates, Yogyakarta. Dia lahir dari keluarga berdarah priyayi. Bapaknya, Mahmud Joyohadinoro, menjadi pegawai di jawatan kereta api Belanda. Sedangkan ibunya, Raden Ajeng Kiswari, seorang bangsawan yang dekat dengan Keraton Yogyakarta. Sujatin adalah anak keempat dari 5 bersaudara. Semua kakaknya adalah perempuan. Oleh karena itu, ketika Sujatin masih dalam kandungan, bapaknya sangat mengharap anak laki-laki. Sehingga, ketika Sujatin lahir, bapaknya agak kecewa. Sang bapak, yang tercekoki menganggap dirinya patriarkis, enggan menggendong Suyatin. Sujatin mendengar kisah itu dari kakaknya ketika sudah menginjak Hollands Inlandsche SchoolHIS (sekolah dasar zaman Belanda). Saat itu, sebagai anak perempuan yang beranjak remaja, Suyatin merasakan langsung perlakuan yang tak adil karena faktor gender. Namun, Sujatin tak menyerah. Kisah pahit itu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":215,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[10],"tags":[],"class_list":["post-214","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-tokoh"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/214","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=214"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/214\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":257,"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/214\/revisions\/257"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/215"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=214"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=214"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=214"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}