{"id":2372,"date":"2026-05-30T04:27:29","date_gmt":"2026-05-30T04:27:29","guid":{"rendered":"https:\/\/titiknalar.com\/?p=2372"},"modified":"2026-05-30T04:27:29","modified_gmt":"2026-05-30T04:27:29","slug":"mhd-sanusi-jangan-jadikan-penderitaan-petani-sawit-sebagai-bahan-pidato-buktikan-dengan-tindakan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/2026\/05\/30\/mhd-sanusi-jangan-jadikan-penderitaan-petani-sawit-sebagai-bahan-pidato-buktikan-dengan-tindakan\/","title":{"rendered":"Mhd Sanusi: Jangan Jadikan Penderitaan Petani Sawit Sebagai Bahan Pidato, Buktikan dengan Tindakan!"},"content":{"rendered":"<p><span dir=\"auto\" style=\"vertical-align: inherit;\"><span dir=\"auto\" style=\"vertical-align: inherit;\"><strong>KAMPAR, titiknalar.com &#8211;<\/strong> Pemuda Kampar, Mhd Sanusi, melontarkan kritik keras terhadap pernyataan pemerintah yang mengancam mencabut izin pabrik kelapa sawit (PKS) yang membeli TBS petani di bawah harga yang ditetapkan. Menurutnya, ancaman tersebut tidak akan berarti apa-apa jika tidak dilakukan tindakan nyata dan transparan.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span dir=\"auto\" style=\"vertical-align: inherit;\"><span dir=\"auto\" style=\"vertical-align: inherit;\">Petani tidak bisa makan dari ancaman. Petani tidak bisa membayar pupuk dengan janji. Yang dibutuhkan rakyat hari ini adalah tindakan, bukan pernyataan yang berulang kali disampaikan ketika sorotan masyarakat sedang tinggi, tegas Sanusi.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span dir=\"auto\" style=\"vertical-align: inherit;\"><span dir=\"auto\" style=\"vertical-align: inherit;\">Ia menilai persoalan harga sawit yang merugikan petani bukanlah masalah baru. Keluhan petani sudah bertahun-tahun terdengar, namun hingga kini masih banyak petani yang merasa tidak mendapatkan harga yang layak atas hasil kebunnya.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span dir=\"auto\" style=\"vertical-align: inherit;\"><span dir=\"auto\" style=\"vertical-align: inherit;\">&#8220;Kalau memang pemerintah serius membela petani, tunjukkan siapa pabrik yang melanggar. Umumkan ke publik. Berikan sanksi. Cabut izinnya jika memang terbukti. Jangan sampai yang keras hanya pernyataannya, tapi pelaksanaannya tidak pernah terlihat,&#8221; ujarnya.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span dir=\"auto\" style=\"vertical-align: inherit;\"><span dir=\"auto\" style=\"vertical-align: inherit;\">Menurut Sanusi, masyarakat sudah terlalu sering mendengar narasi keberpihakan kepada petani, sementara kondisi di lapangan justru menunjukkan banyak petani yang semakin tertekan oleh biaya produksi yang tinggi dan harga jual yang tidak disebutkan.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span dir=\"auto\" style=\"vertical-align: inherit;\"><span dir=\"auto\" style=\"vertical-align: inherit;\">&#8220;Rakyat sudah lelah dengan seremoni dan konferensi pers. Yang mereka rasakan hari ini adalah kebutuhan hidup yang terus meningkat, biaya pupuk yang mahal, sementara harga sawit sering kali tidak berpihak kepada mereka. Jangan tunggu kemarahan petani meledak baru pemerintah bergerak,&#8221; katanya.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span dir=\"auto\" style=\"vertical-align: inherit;\"><span dir=\"auto\" style=\"vertical-align: inherit;\">Ia juga mengingatkan bahwa petani sawit adalah salah satu penopang utama perekonomian daerah. Oleh karena itu, negara tidak boleh kalah oleh kepentingan segelintir pihak yang diduga mengambil keuntungan dari penderitaan petani.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span dir=\"auto\" style=\"vertical-align: inherit;\"><span dir=\"auto\" style=\"vertical-align: inherit;\">&#8220;Jangan sampai negara terlihat gagah di atas podium, tetapi kehilangan keberanian saat berhadapan dengan pihak-pihak yang diduga merugikan petani. Jika benar ada pelanggaran, tindak. Jika tidak ada tindakan, publik berhak mengakui keseriusan pemerintah dalam melindungi rakyatnya sendiri.&#8221;<\/span><\/span><\/p>\n<p><span dir=\"auto\" style=\"vertical-align: inherit;\"><span dir=\"auto\" style=\"vertical-align: inherit;\">Sanusi menegaskan bahwa ukuran keberhasilan pemerintah bukanlah besarnya ancaman yang disampaikan kepada masyarakat, melainkan seberapa besar perubahan yang benar-benar dirasakan petani di lapangan.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span dir=\"auto\" style=\"vertical-align: inherit;\"><span dir=\"auto\" style=\"vertical-align: inherit;\">\u201cHari ini petani tidak membutuhkan kata-kata yang indah. Mereka membutuhkan harga yang adil, perlindungan yang nyata, dan keberanian pemerintah untuk membuktikan bahwa negara masih berpihak kepada rakyat kecil. Selain itu, semua hanya akan terdengar sebagai slogan yang terus diulang setiap kali persoalan sawit kembali menjadi perhatian publik,\u201d tutupnya.<\/span><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KAMPAR, titiknalar.com &#8211; Pemuda Kampar, Mhd Sanusi, melontarkan kritik keras terhadap pernyataan pemerintah yang mengancam mencabut izin pabrik kelapa sawit (PKS) yang membeli TBS petani di bawah harga yang ditetapkan. Menurutnya, ancaman tersebut tidak akan berarti apa-apa jika tidak dilakukan tindakan nyata dan transparan. Petani tidak bisa makan dari ancaman. Petani tidak bisa membayar pupuk dengan janji. Yang dibutuhkan rakyat hari ini adalah tindakan, bukan pernyataan yang berulang kali disampaikan ketika sorotan masyarakat sedang tinggi, tegas Sanusi. Ia menilai persoalan harga sawit yang merugikan petani bukanlah masalah baru. Keluhan petani sudah bertahun-tahun terdengar, namun hingga kini masih banyak petani yang merasa tidak mendapatkan harga yang layak atas hasil kebunnya. &#8220;Kalau memang pemerintah serius membela petani, tunjukkan siapa pabrik yang melanggar. Umumkan ke publik. Berikan sanksi. Cabut izinnya jika memang terbukti. Jangan sampai yang keras hanya pernyataannya, tapi pelaksanaannya tidak pernah terlihat,&#8221; ujarnya. Menurut Sanusi, masyarakat sudah terlalu sering mendengar narasi keberpihakan kepada petani, sementara kondisi di lapangan justru menunjukkan banyak petani yang semakin tertekan oleh biaya produksi yang tinggi dan harga jual yang tidak disebutkan. &#8220;Rakyat sudah lelah dengan seremoni dan konferensi pers. Yang mereka rasakan hari ini adalah kebutuhan hidup yang terus meningkat, biaya pupuk yang mahal, sementara harga [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":2373,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3,14],"tags":[],"class_list":["post-2372","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-daerah","category-kampar"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2372","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2372"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2372\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2374,"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2372\/revisions\/2374"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2373"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2372"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2372"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2372"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}