{"id":484,"date":"2025-05-04T12:37:33","date_gmt":"2025-05-04T12:37:33","guid":{"rendered":"https:\/\/titiknalar.com\/?p=484"},"modified":"2025-05-04T12:37:33","modified_gmt":"2025-05-04T12:37:33","slug":"cornel-simanjuntak-seniman-dan-pemuda-revolusi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/2025\/05\/04\/cornel-simanjuntak-seniman-dan-pemuda-revolusi\/","title":{"rendered":"Cornel Simanjuntak, Seniman Dan Pemuda Revolusi!"},"content":{"rendered":"<p>Siapa yang tak terbakar dengan lagu \u201cMaju Tak Gentar\u201d? Hampir setiap jiwa, apalagi pemuda, bisa terbakar oleh lagu itu. Pencipta lagu itu, Cornelis Simanjuntak, adalah seorang komponis yang memanggul senjata di medan perang untuk mempertahankan kemerdekaan negerinya.<\/p>\n<p>Pada saat itu, semua orang memang bisa terbakar api revolusi. Cornel, yang saat itu masih seorang pemuda, termasuk golongan pemuda yang terbakar oleh semangat Revolusi Agustus. Soe Hok Gie menyebut Cornel sebagai tipe \u201cpemuda revolusioner\u201d saat itu.<\/p>\n<p>Orang jaman sekarang lebih mengenal Cornel sebagai komponis lagu-lagu nasional. Sedangkan kontribusinya yang lebih besar, berkorban untuk kemerdekaan negerinya, hampir tidak ditulis dalam buku-buku sejarah di sekolah-sekolah kita.<\/p>\n<p><strong>Anak cerdas pencinta musik<\/strong><\/p>\n<p>Cornel lahir di Pematang Siantar pada tahun 1921. Ayahnya, Tolpus Simanjuntak, adalah seorang anggota polisi. Sedangkan ibunya bernama Rumina Siahaan. Dengan latar-belakang keluarganya, Cornel berkesempatan untuk berkenalan dengan dunia yang lebih luas.<\/p>\n<p>Bakat musiknya sudah muncul saat ia bersekolah di HIS (Hollandsch-Inlandsche School). Saat itu, Cornel sudah pandai bermain gitar dan menyanyikan lagu-lagu barat yang didengarnya dari radio dan nonton film.<\/p>\n<p>Kira-kira tahun 1937, Cornel dikirim orang tuanya bersekolah di HIK Xaverius College di Muntilan, Jogjakarta. Salah seorang sahabatnya di HIK Muntilan, Binsar Sitompul, menyebut Cornel sebagai murid yang cerdas, pemberani, jujur dan tidak pernah enggan membela pendiriannya.<\/p>\n<p>Kebetulan, di HIK Muntilan saat itu ada seorang pengajar musik yang handal, J. Schouten. Berkat usaha Schouten, di sekolah itu terbentuk orkes simfoni yang beranggotakan 60 orang. Kelompok ini sering memainkan karya Beethoven, Bach, Haydn, Strauss (Johan) dan Wagner.<\/p>\n<p>Cornel saat itu, kata Binsar Sitompul, segera menjadi perhatian Schouten berkat bakat musiknya yang menonjol dan suaranya yang bagus. Cornel pun terlibat dalam kelas musik Schouten. Di situlah Cornel kecil berkenalan dengan komposer-komposer besar dunia, termasuk Beethoven atau Franz Schubert. Salah satu lagu Franz Schubert, Ave Maria, menjadi lagu kesukaan Cornel.<\/p>\n<p>Di sini pula Cornel mengarungi karya-karya pujangga Indonesia: Amir Hamzah, Sanusi Pane, JE Tatengkeng, dan Sutomo Djauhar Arifin. Cornel muda makin larut dalam kecintaan terhadap sastra. Ia mengakrabi karya-karya Goethe, Schiller, Heine, dan Shakespeare.<\/p>\n<p><strong>Pencipta lagu<\/strong><\/p>\n<p>Pada tahun 1942, menjelang akhir studinya di HIK Muntilan, pasukan fasis Jepang datang menyerang. Berbekal ijazah darurat, Cornel bisa menjadi guru di Magelang, Jawa Tengah. Lagu \u201cMekar Melatiku\u201d dihasilkannya di sana.<\/p>\n<p>Pada tahun 1943, Cornel pindah ke Jakarta. Di sana, ia bekerja di Kantor Kebudayaan Jepang (Keimin Bunka Shidosho). Di sini, ia bergaul dengan seorang komponis Jepang, Nobuo Lida. Di sana ia juga ditugasi membuat lagu-lagu propaganda. Banyak lagu diciptakannya: \u201cAsia Sudah Bangun\u201d, \u201cHancurkan Musuh Kita\u201d, \u201cAwaslah Inggeris dan Amerika\u201d, dan \u201cMars Pasukan Sukarela\u201d.<\/p>\n<p>Masa 1943-1945, kata Asrul Sani, adalah puncak kreativitas dari Cornel Simanjuntak. Satu keunggulan Cornel dalam menciptakan lagu adalah lagunya sederhana, mudah dipahami, tetapi sangat agitatif. Dan, satu lagi, Cornel menganggap seorang komponis harus sanggup menangkap perasaan musik ke dalam dada rakyat.<\/p>\n<p><strong>Terjun dalam revolusi<\/strong><\/p>\n<p>Pada tahun 1945, saat api revolusi membakar dada pemuda dan rakyat di mana saja, Cornel memilih terjun langsung kepada revolusi.<\/p>\n<p>Asrul Sani, yang sangat akrab dengan Cornel, pernah bertemu dengan dirinya pada masa revolusi itu. Saat itu, Cornel berucap kepada Asrul Sani: \u201cKalau Saudara hendak mencari saya, jangan cari di rumah. Saya ada di markas API, Menteng 31. Buat sementara waktu saya meninggalkan musik. Saya sekarang merasa bebas sebebas-bebasnya dan dengan kebebasan yang saya perdapat ini saya tentu akan dapat menghalang jiwa saya. Saya tidak ingin perasaan kebebasan itu hilang. Kalau kemerdekaan kita diambil orang, ia pun akan turut hilang. Sekarang ada pertempuran untuk kebebasan ini. Saya tersangkut dalamnya.\u201d<\/p>\n<p>Cornel terjun dalam revolusi. Ia memanggul senapan terlibat dalam pertempuran di daerah Karawang dan Jakarta. Hingga, dalam sebuah pertempuran di daerah Senen \u2013 Tangsi Penggorengan Jakarta, pahanya tertembak. Ia kemudian dirawat di CBZ\u2014sekarang bernama Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).<\/p>\n<p>Belum sembuh total, pasukan sekutu datang melakukan penyisiran di rumah sakit. Cornel pun dibopong pergi oleh kawan-kawan seperjuangannya dan dibawa keluar kota Jakarta.<\/p>\n<p>Dari Karawang ia dikirim ke Yogyakarta. Di kota inilah kemudian lahir lagu-lagu yang heroik dan patriotik. Antara lain: Tanah Tumpah Darah, Maju Tak Gentar, Pada Pahlawan, Teguh Kukuh Berlapis Baja, Indonesia Tetap Merdeka.<\/p>\n<p>Di jogja, batuk kering yang dideritanya tak berkesudahan. Badannya melemah dan tubuhnya terus menyusut. Ia pun dirawat di di Sanatorium Pakem, Jogjakarta. Sembari diopname, Cornel terus berkarya. Ia terus melahirkan lagu-lagu perjuangan untuk membakar semangat heroik kaum muda.<\/p>\n<p>Pada 15 September 1946, Cornel\u2014yang masih berusia 25 tahun\u2014menghembuskan nafas yang terakhir. Ia dimakamkan di Pemakaman Kerkop Yogyakarta.<\/p>\n<p>Cornel, pemuda yang sebetulnya sedang sakit itu, tidak mempedulikan dirinya asalkan bisa berkontribusi bagi pembebasan negerinya. Ia menyerahkan seluruh hidupnya kepada revolusi.<\/p>\n<p>Cornel tidak mau melemah dalam semangat revolusi yang menggelora. Revolusi dan kemerdekaan adalah imannya.<\/p>\n<p>Rudi Hartono, pengurus Komite Pimpinan Pusat\u2013 Partai Rakyat Demokratik (PRD)<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Sumber : berdikarionline, 10 April 2012,https:\/\/www.berdikarionline.com\/cornel-simanjuntak-seniman-dan-pemuda-revolusi\/<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Siapa yang tak terbakar dengan lagu \u201cMaju Tak Gentar\u201d? Hampir setiap jiwa, apalagi pemuda, bisa terbakar oleh lagu itu. Pencipta lagu itu, Cornelis Simanjuntak, adalah seorang komponis yang memanggul senjata di medan perang untuk mempertahankan kemerdekaan negerinya. Pada saat itu, semua orang memang bisa terbakar api revolusi. Cornel, yang saat itu masih seorang pemuda, termasuk golongan pemuda yang terbakar oleh semangat Revolusi Agustus. Soe Hok Gie menyebut Cornel sebagai tipe \u201cpemuda revolusioner\u201d saat itu. Orang jaman sekarang lebih mengenal Cornel sebagai komponis lagu-lagu nasional. Sedangkan kontribusinya yang lebih besar, berkorban untuk kemerdekaan negerinya, hampir tidak ditulis dalam buku-buku sejarah di sekolah-sekolah kita. Anak cerdas pencinta musik Cornel lahir di Pematang Siantar pada tahun 1921. Ayahnya, Tolpus Simanjuntak, adalah seorang anggota polisi. Sedangkan ibunya bernama Rumina Siahaan. Dengan latar-belakang keluarganya, Cornel berkesempatan untuk berkenalan dengan dunia yang lebih luas. Bakat musiknya sudah muncul saat ia bersekolah di HIS (Hollandsch-Inlandsche School). Saat itu, Cornel sudah pandai bermain gitar dan menyanyikan lagu-lagu barat yang didengarnya dari radio dan nonton film. Kira-kira tahun 1937, Cornel dikirim orang tuanya bersekolah di HIK Xaverius College di Muntilan, Jogjakarta. Salah seorang sahabatnya di HIK Muntilan, Binsar Sitompul, menyebut Cornel sebagai murid yang cerdas, pemberani, jujur dan tidak [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":485,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[10],"tags":[],"class_list":["post-484","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-tokoh"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/484","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=484"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/484\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":486,"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/484\/revisions\/486"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/485"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=484"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=484"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=484"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}