{"id":503,"date":"2025-05-05T02:38:07","date_gmt":"2025-05-05T02:38:07","guid":{"rendered":"https:\/\/titiknalar.com\/?p=503"},"modified":"2025-05-05T02:38:07","modified_gmt":"2025-05-05T02:38:07","slug":"inggit-garnasih-tak-sekedar-sebagai-pendamping-bung-karno","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/2025\/05\/05\/inggit-garnasih-tak-sekedar-sebagai-pendamping-bung-karno\/","title":{"rendered":"Inggit Garnasih, Tak Sekedar Sebagai \u2018Pendamping\u2019 Bung Karno"},"content":{"rendered":"<p>Namanya kadang disebut dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Tetapi, pada umumnya, tak jauh dari predikat \u201cpendamping suami\u201d. Ya, perempuan ini memang istri dari seorang pejuang besar, Bung Karno. Dia adalah Inggit Garnasih.<\/p>\n<p>Ia di lahirkan di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pada 17 Februari 1888. Tidak banyak catatan tentang perjalanan hidupnya sebelum bertemu Kusno\u2014nama Bung Karno saat itu. Di Wikipedia disebutkan, ia lahir dengan nama Garnasih saja. Namun, gara-gara kecantikannya, banyak orang menyebut senyumnya bernilai seringgit. Itulah awal mula penggunaan kata \u201cInggit\u201d di depan namanya.<\/p>\n<p>Tetapi, sebelum menikah dengan Bung Karno, dua kali bahtera rumah tangga Inggit kandas di tengah jalan. Yang pertama, ia menikah dengan seorang Kopral Residen bernama Nataatmadja. Kemudian yang kedua, Sanusi, seorang pedagang dan anggota Sarekat Islam (SI).<\/p>\n<p>Saat Bung Karno sekolah di Bandung, tepatnya di Technische Hogeschool (THS),ia menumpang di rumah Haji Sanusi. Saat itu, Bung Karno sudah memperistri anak perempuan HOS Tjokroaminoto, Utari. Tetapi status pernikahan keduanya di sebut \u201ckawin gantung\u201d. Maklum, kedua-duanya dianggap belum cukup umur.<\/p>\n<p>Saat Bung Karno indekos di rumah Sanusia, ia sudah berstatus \u201caktivis pergerakan\u201d. Sedangkan Inggit kala itu sudah istri seorang pedagang yang menjadi anggota SI. Keduanya terpaut usia 13 tahun. Bayangkan, seorang aktivis muda terpikat dengan seorang istri pedagang.<\/p>\n<p>Bertemu pertama Bung Karno sudah kepincut. \u201cPerawakannya kecil, sekuntum bunga merah yang cantik melekat di sanggulnya dan suatu senyuman menyilaukan mata,\u201d kenang Bung Karno.<\/p>\n<p>Meski sudah bersuami, tetapi Inggit selalu kesepian. Suaminya, Haji Sanusi, selalu keluar malam untuk judi dan biliar. Hanya Bung Karno di rumah itu. Bung Karno dan Inggit hanya berdua setiap malam. \u201cHanya Inggit dan aku di rumah yang kosong. Dia kesepian. Aku kesepian,\u201d kata Bung Karno. Coba bayangkan sendiri!<\/p>\n<p>Uniknya, Utari\u2014istri Bung Karno\u2014tahu hubungan itu. Sanusi, suami Inggit Garnasih, juga tahu keadaan itu. Tetapi Bung Karno merasa tidak merusak hati siapa pun: hubungan Soekaro-Utari lebih mirip kakak-adik. Sedangkan Haji Sanusi sudah renggang dengan istrinya.<\/p>\n<p>Akhirnya, pada tahun 1923, Bung Karno menikah dengan Inggit Garnasih. Perkawinannya berlangsung sederhana. Karena tidak ada tempat tinggal tetap, kedua pasangan pengantin baru ini harus berpindah-pidah tempat. \u201cDengan Inggit disampingku, aku melangkah maju memenuhi amanat menuju cita-cita,\u201d Kata Soekarno.<\/p>\n<p>Di Bandung, pada 1925, selepas dari Sekolah Teknik, Soekarno makin terbenam dalam dunia pergerakan. Praktis, untuk menggerakkan ekonomi keluarganya, Soekarno harus bekerja serabutan: ia pernah jadi guru, kemudian membuka biro teknik.<\/p>\n<p>Dalam pahit-getir itu, Inggit setia mendampingi. Bahkan, lebih dari itu, ia turut bekerja untuk membantu meringankan beban keluarga. Maklum, Bung Karno banyak menghabiskan waktunya untuk membangkitkan \u201cperlawanan\u201d.<\/p>\n<p>Terlebih pada tahun 1927. Bung Karno bersama kawan-kawannya mendiri partai pergerakan: Partai Nasioal Indonesia (PNI). Kehidupan Bung Karno makin terbenam dalam dunia pergerakan.<\/p>\n<p>Dengan begitu, kehidupan Soekarno-Inggit makin melarat. Di sinilah ketangguhan pribadi seorang Inggit Ganarsih. Ia tak pernah mencela aktivitas politik Bung Karno. Malahan, Inggit berjualan bedak dan bahan kecantikan untuk menopang ekonomi keluarga.<\/p>\n<p>Tahun 1929, pergerakan politik mencapai titik-didihnya. Penguasa kolonial takut dengan perkembangan PNI. Akhirnya, pada 29 Desember 1929, Soekarno dan tiga kawannya ditangkap penguasa kolonial. Mereka ditahan di rumah penjara Banceuy, Bandung.<\/p>\n<p>Penjara Banceuy adalah proses \u201cisolasi paling menyedihkan\u201d bagi Soekarno. Hampir 40-an hari ia tak bisa melihat dunia di luar selnya. Di sinilah inggit mengambil peranan yang sangat penting. Ia tak lagi sebatas \u201cpedamping\u201d Soekarno. Tapi, kali ini Inggit telah menjadi penyelundup bacaan-bacaan untuk Bung Karno di dalam penjara.<\/p>\n<p>Ia menjadi agen rahasia yang handal. Ia selalu berhasil memperdaya penjaga penjara Banceuy yang berlapi-lapis untuk menyelundukan bacaan untuk Bung Karno. Buku itu banyak diselipkan di balik kebayanya. Selain itu, Inggit pula yang memasok informasi tentang dunia luar kepada Bung Karno.<\/p>\n<p>Selundupan buku plus informasi Inggit sangat berperan dalam pekerjaan Bung Karno menyusun pidato pembelaannya. Bayangkan, pidato \u201cIndonesia Menggugat\u201d itu tak lepas dari kontribusi seorang Inggit Garnasih.<\/p>\n<p>Koran \u201cpersatuan Indonesia\u201d, yang sebelumnya dinahkodai Bung Karno, kemudian berganti nama menjadi Nyonya Soekarno alias Inggit Garnasih. Dengan begitu, koran tersebut tetap terbit, meskipun Bung Karno dipenjara.<\/p>\n<p>Inggit pula yang terus menyemangati Bung Karno. \u201cSoekarno tegakkan dirimu, ingat cita-citamu,\u201d kata Inggit.<\/p>\n<p>Inggit juga berperan penting saat Bung Karno ditahan di penjara Sukamiskin. Dalam keadaan yang serba sulit, Inggit membanting tulang. Ia membuat rokok lintingan daun kawung. Setiap bungkus berisi sepuluh batang. Rokok itu diberi nama \u201dRokok Kawung Ratna Djuami bikinan Ibu Inggit Garnasih\u201d.<\/p>\n<p>Untuk menjenguk Bung Karno, karena tak ada uang, ia harus rela berjalan kaki sejauh 15 kilometer pergi-pulang. Dan, dalam setiap kunjungan, ia tak lupa membawa buku-buku dan sejumput informasi.<\/p>\n<p>Konon, dalam buku-buku yang diselundupkannya, terdapat bahasa sandi berupa bekas lubang jarum\u2013seperti huruf braile\u2013 sehingga Soekarno dapat terus megetahui berita perkembangan di luar.<\/p>\n<p>Kadang juga Inggit mengirimkan telur asin. Itu pertanda berita buruk. Nah, biasanya Inggit juga mengirim telur biasa. Di kulitnya di beri tusukan peniti. Satu tusukan berarti \u201ckabar baik\u201d. Dua tusukan berarti \u201cseorang kawan ditangkap\u201d. Dan 3 tusukan berarti \u201cpenyergapan besar-besaran\u201d.<\/p>\n<p>Keluar dari penjara, Bung Karno kembali terjun dalam pergerakan. Malahan bertambah makin radikal. Tulisan-tulisannya makin tajam menusuk kekuasaan kolonial. Akhirnya, ia ditangkap lagi dan dibuang ke Ende, Flores.<\/p>\n<p>Ketika Sukarno dibuang ke Ende, Inggit menyertai. Begitu pula ketika Sukarno dibuang ke Bengkulu. Selama 20 tahun Inggit menyertai Bung Karno. Secara psikologis, Inggit banyak berkontribusi dalam pematangan Bung Karno sebagai aktivis politik.<\/p>\n<p>Pada pembuangan di Bengkulah, Soekarno tertambat hatinya pada perempuan muda. Fatmawati namanya. Hubungan Soekarno-Inggit mulai terguncang.<\/p>\n<p>Kerenggangan ini berlangsung bertahun-tahun. Hingga, pada tahun 1943, hubungan itu akhirnya retak juga. Bung Karno menyatakan keinginannya menikahi Fatmawati. Inggit menyampaikan haknya untuk berkata \u201ctidak\u201d.<\/p>\n<p>\u201cCeraikan aku dan kembalikan aku ke Bandung,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Inggit kembali ke Bandung. Di sana ia memulai kembali pekerjaanya: membuat jamu dan bedak. Dalam sejarah kita tahu, Soekarno justru mendahului Inggit menemui tuhan. Tatkala Sukarno wafat tahun 1971, di depan peti jenazah Soekarno yang disemayamkan di Wisma Yaso, Jakarta, Inggit berucap lirih: \u201cEngkus, geuningan Engkus the miheulaan Inggit. Kasep, ku Inggit didoakeun\u2026 (Engkus, rupanya Engkus mendahului Inggit. Cakep, Inggit mendoakanmu).\u201d<\/p>\n<p>Ia meninggal Bandung, Jawa Barat, 13 April 1984. Beberapa saat lalu, beberapa kalangan dan sejarawan mengusulkan Inggit Garnasih sebagai Pahlawan Nasional.<\/p>\n<p>Rudi Hartono, Pemimpin Redaksi Berdikari Online<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Sumber : berdikarionline, 14 Juli 2012, https:\/\/www.berdikarionline.com\/inggit-garnasih-tak-sekedar-pendamping-bung-karno\/<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Namanya kadang disebut dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Tetapi, pada umumnya, tak jauh dari predikat \u201cpendamping suami\u201d. Ya, perempuan ini memang istri dari seorang pejuang besar, Bung Karno. Dia adalah Inggit Garnasih. Ia di lahirkan di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pada 17 Februari 1888. Tidak banyak catatan tentang perjalanan hidupnya sebelum bertemu Kusno\u2014nama Bung Karno saat itu. Di Wikipedia disebutkan, ia lahir dengan nama Garnasih saja. Namun, gara-gara kecantikannya, banyak orang menyebut senyumnya bernilai seringgit. Itulah awal mula penggunaan kata \u201cInggit\u201d di depan namanya. Tetapi, sebelum menikah dengan Bung Karno, dua kali bahtera rumah tangga Inggit kandas di tengah jalan. Yang pertama, ia menikah dengan seorang Kopral Residen bernama Nataatmadja. Kemudian yang kedua, Sanusi, seorang pedagang dan anggota Sarekat Islam (SI). Saat Bung Karno sekolah di Bandung, tepatnya di Technische Hogeschool (THS),ia menumpang di rumah Haji Sanusi. Saat itu, Bung Karno sudah memperistri anak perempuan HOS Tjokroaminoto, Utari. Tetapi status pernikahan keduanya di sebut \u201ckawin gantung\u201d. Maklum, kedua-duanya dianggap belum cukup umur. Saat Bung Karno indekos di rumah Sanusia, ia sudah berstatus \u201caktivis pergerakan\u201d. Sedangkan Inggit kala itu sudah istri seorang pedagang yang menjadi anggota SI. Keduanya terpaut usia 13 tahun. Bayangkan, seorang aktivis muda terpikat dengan seorang istri pedagang. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":504,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[10],"tags":[],"class_list":["post-503","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-tokoh"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/503","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=503"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/503\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":505,"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/503\/revisions\/505"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/504"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=503"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=503"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/titiknalar.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=503"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}